(0741) 40131 jambipta@gmail.com

GEDUNG PTA OK

Belajar agama tidak cukup dengan membaca buku-buku, apalagi sebatas terjemahan, menonton Youtube, atau mendengarkan podcast semata.

Ilmu yang didapat dari sosok guru yang jelas dan mempunyai sanad, maka muaranya akan menghasilkan ilmu yang bisa menentramkan hati dan menjernihkan akal pikiran, bukan justru menghasilkan kegemaran saling menyalahkan.

Pondok pesantren merupakan pendahulu dari sistem asrama yang telah lama diselenggarakan di dunia. Pesantren adalah lembaga pendidikan Islam tertua yang berorientasi pada kajian keagamaan yang bersumber pada Al-Quran dan hadits .       Sampai saat ini, pesantren semakin menarik perhatian masyarakat karena menanamkan ketersambungan rantai atau sanad (transmisi keilmuan) untuk menjaga orisinalitas dan kevalidan keilmuan antara guru dan murid.

“Sanad secara bahasa adalah al-Mu'tamad (tempat bersandar atau bergantung), dinamakan demikian sebab hadits disandarkan kepada sanad atau bergantung kepadanya. Secara istilah, sanad adalah silsilah para perawi yang menyambungkan hingga ke matan atau redaksi.” (Mahmud Thahhan, Taysir Musthalah al-Hadits, Maktabah al-Ma'arif, cetakan ke-10: 2004, hal 19).

Imam Bukhari di dalam kitab Shahih Bukharinya berkata:

" Ta'allamuu qabla dzaanniina "

Artinya:

"Mengajilah (belajarlah) kamu sebelum kamu bertemu dengan orang yang hanya bermodalkan prasangka".

Kutipan Imam Bukhari tersebut lantas disyarahi oleh Imam Nawawi yang berbunyi:

"Wa maknahu ta'allamul ilma min ahlihi almuhaqqiqiina alwari'iina qabla dzihaabihim wa majii'i qaumin yatakallamuuna fil ilmi bi mitsli nufusihim  wa dzunuunihim allati laisa laha mustanadun syar'iyun"

Artinya: "Mengajilah (belajarlah) dengan bersungguh-sungguh kepada orang yang benar-benar berilmu sebelum kamu bertemu dengan masanya orang yang berbicara ilmu yang hanya bermodalkan nafsu dan prasangka tanpa sandaran yang jelas".

Maqolah kedua ulama di atas menunjukkan kepada kita pentingnya berilmu kepada guru atau ulama yang memiliki sanad yang jelas. Hal ini yang akan kemudian mampu menjauhkan kita dari kesesatan dalam beragama. Ulama adalah pewaris para nabi.    Setelah kenabian ditutup dengan diutusnya Rasulullah saw., maka warisan keilmuan keagamaan berada dalam tanggung jawab para ulama. Penting untuk menengok, mempelajari, dan belajar langsung kepada para ulama untuk menjaga kesinambungan ilmu dari Rasulullah saw. 

Tentang pentingnya sanad, Abdullah bin Mubarak rahimahumullah dalam kitab Shahih Muslim berkata: Al Isnaadu minad diini laulal isnaadu la qaala man syaa'a wa maa syaa'a diini, Sanad adalah bagian dari agama. Kalau bukan  karena sanad (transmisi keilmuan), pasti siapa pun bisa berkata dengan apa yang dia kehendaki.

Di masa dekade awal, sanad dianggap tidak penting, tetapi ketika fitnah merebak, maka sanad menjadi alat penting untuk validasi informasi keagamaan. Sebagaimana dikatakan Imam Nawawi.

Lam yakuunu yas'aluuna anil isnaadi falammaa waqa'at alfitnatu qaaluu lana rijaalakum fayandzuru ila ahli sunnati fa yukkhadzu  haditsuhum wa yandzuru ila ahli bida'i fala yukkhadzu hadituhum.

Artinya: “Dulu mereka (para ulama di masa sahabat), tidaklah bertanya tentang sanad. Ketika terjadi fitnah, mereka berkata: "Sebutkanlah nama para perawi (hadits) kalian. Untuk dilihat (apakah berasal dari) Ahlussunnah, sehingga diambil (diterima) haditsnya. Dan dilihat (apakah berasal dari) ahlul bid'ah, sehingga tidak diambil hadits mereka.”

Sanad menjadi tradisi dan ciri khas Ahlussunnah wal Jamaah. Tradisi keilmuan golongan ini lahir dari pesantren. Hadratussyaikh KH M Hasyim Asy'ari dalam kitabnya Risalah Ahlussunnah wal Jamaah menyatakan, hendaknya berhati-hati dalam mengambil suatu ilmu (informasi). Dan seyogyanya tidak mengambil ilmu dari orang yang bukan ahlinya. Beliau menyitir perkataan Ibnu Malik Ra. "La tahmilul ilma anil bida'i wala tahmiluhu 'an man la ya'rifu bitthalabi wa la an man yukadzibu fi haditsin nasi wa in kana la yukadzibu fi hafitsi rasulillahi SAW".

Artinya:  “Jangan mengambil ilmu dari orang ahli bid'ah, serta janganlah menukilnya dari orang yang tak diketahui dari mana ia mendapatkannya, dan tidak pula dari siapapun yang dalam perkataannya ada kobohongan, meskipun ia tidak berbohong dalam menyebutkan hadits Rasulullah Saw.”

Dengan demikian sanad dan ijazah sangat penting untuk mempertahankan otentisitas dan orisinilitas ilmu, khusunya tentang agama Islam yang terus dipegang kuat dalam tradisi pesantren dan golongam Ahlussunnah wal Jamaah sebagai ciri khasnya. Sebagaimana pendapatnya Abdullah bin Mubarak. 

 Qala  Abdullah alfarqu bainana wa baina alqaumii al-isnad

Artinya: “Abdullah ibnu Mubarak berkata, " Yang membedakan antara kita (Aswaja) dengan kaum lain adalah sanad.”

Penjelasan di atas menegaskan bahwa setiap santri harus memiliki guru yang mempunyai kemampuan dan sanad keilmuan yang jelas. Karena sanad ilmu menunjukkan pentingnya otoritas seseorang dalam berilmu. Semakin disebut sumber ilmu itu, maka Rahmat Allah akan turun setiap kali menyebut nama-nama orang saleh.

Semoga bermanfaat.

Wallahu a'lam bi showab

Allahumma sholli 'ala sayyidina Muhammad wa 'ala alihi wa sohbihi ajma'in

Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Selamat pagi, salam sehat, solid, speed, smart

Jambi, 13 Januari 2025

Dr. Chazim Maksalina, M.H.