
Para wanita kelas kakap itu biasanya tahu taktik ilmu manipulasi. Mereka buat manipulasi atasannya, rekan kerja bahkan masyarakat. Jali ini penulis ingin berbagi pengetahuan sekelumit kepada kita sekalian, kira-kira taktik apa aja yang mereka pakai supaya kita semua tidak mudah untuk dimanipulasi sama siapapun.
Taktik yang pertama Divide and Conquer, pecah belah lalu kuasasi. Ini dari buku The 33 Strategies of War punya Robert Green. Pecah dulu rakyatnya, bikin mereka saling benci. Rakyat dibenturkan antar golongan, etnis dengan etnis, rakyat dengan aparat, miskin dengan elit, tujuannya menjadi pecah fokus dan melupakan musuh aslinya. Padahal musuh aslinya lagi santai di rumah sambil ngopi, melihat kita berantem satu sama lain, sedangkan merekaw dapat keuntungan.
Taktik yang kedua bernama The Shock Doctrine artinya loloskan kebijakan saat semuanya panik. Ini diambil dari bukunya Naomi Klein, ada chaos, kebakaran, rakyat ribut, pajak dinaikkan, rekening dipantau, gaji elit meledak. Itu semua bukan kebetulan itu bagian dari taktiknya mereka. Di buku ini dijelaskan dalam trauma massal, rakyat tak sadar sedang masuk dalam perangkat permainan.
Taktik yang ketiga, mereka ingin kita sibuk marah-marah. Ini simbol dari buku yang berjudul The Crowded buku Gustav Le Bone. Ketika kerumunan marah, mereka tidak mencari kebenaran, mereka hanya ingin musuh untuk seseorang, jadi apa yang dilakukan oleh elit, beri rakyat musuh palsu supaya kita semua marahnya ke musuh-musuh palsu ini, ke aparat, ke etnis yang berbeda, ke sesama rakyat. Di buku ini dibilang kerumunan tidak berpikir, mereka bereaksi dan momen ini dimanfaatkan oleh para elit untuk mengambil langkah di dalam ruangan. Mereka bilang chaos itu spontan tapi pas banget waktunya, misalnya ada kenaikan gaji DPR, pajak naik, diawasi ketat, mafia besar terbongkar, PHK massal, diadu domba antara pribumi dengan etnis Tipnghoa, fasilitas publik dibakar, UU perampasan aset belum disahkan, banyak pernyataan anggota legislatif nyeleneh, terbongkar korupsi besar-besaran dan semua terjadi dii waktu yang singkat.
Psikologi massa menawarkan refleksi mendalam tentang apa yang hilang dan didapat individu dalam kelompok. Gustv Le Bone menyatakan bahwa konflik abadi antara nalar individu dan emosi kolektif tetap relevan hingga kini. Ini adlh kunci untuk memahami fenomena kolektif di era medsos.
Memshami Kerumunan
Kerumunan penting bagi kemajuan peradabannya juga bisa berbahaya. Memahami kerumunan adlh kebijaksanaan penting untuk bertahan di masyarakat modern.
Kerumunan penting bagi kemajuan peradaban tetapi juga bisa berbahaya.
Pentingnya Media
Media dan media massa telah menjadi alat baru dalam pembentukan kerumunan. Mereka memanipulasi opini publik dan memperkuat emosi kolektif.
Gustav Lebon memperingatkan bahwa masyarakat modern telahh memasuki era kerumunan. Denga meluasnya demokrasi massa, pengaruh kerumunan semakin besar. Namun kreativitas kerumunan selalu tidak sadar dan impulsif.
Kerumunan tidak dapat melakukan pekerjaan kreatif yang terencana dan sistematis. Kerumunan biasanya destruktif tetapi kadang juga kreatif. Banyak perubahan baru dalam sejarah terjadi berkat kekuatan kerumunan.
Psikologi massa yang muncul dalam pemilu sama dengan psikologi kerumunan. Pemilih merespons lebih kuat terhadap seruan emosional daripada penilaian rasional.
Kerumunan religius adalah bentuk kerumunan yang paling kuat. Keyakinan agama sepenuhnya mengalahkan rasionalitas individu dan menciptakan kepatuhan buta.
Kerumunan terbentuk melalui pengulangan, pernyataan dan penularan. Pengulangan frasa sderhana menjadi alat yang kuat dalam membentuk keyakinan kerumunan. Emosi atau tindakan satu orang bisa menyebar dengan cepat ke seluruh kelompok. Menciptkn kusetrika massa.
Bahwa kerumunan memiliki karakteristik psikologis yang unik berbeda dari tiap individu. Dalam kerumunan, kepribadian sadar individu menghilang dan kepribadian bawah sadar muncul.
Ciri Kerumunan
Ciri pertama dari kerumunan adalah impulsivitas dan ketidakkonsistenan . Kerumunan bereaksi secara ekstrem terhadap rangsangan sesaat dan kehilangan konsistensi.
Ciri kedua sensivitas y tinggi thd sugesti. Kerum mah dipengaruhi oleh kata-kata pemimpin atau provokator dan mengabaikan pemikiran kritis.
Ketiga adalah berlebihan dan penyederhanaan emosi. Kerumunan menerima ide kompleks sbg citra sederhana dan menunjukkan emosi yang ekstrem.
Media dan media massa telahh menjdadi alat baru dalam pembentukan kerumunan. Mereka memanipulasi opini publik dan memperkuat emosi kolektif. Bahkan dengan kerumunan, yang berpendidikan pun tidak berguna secara esensial. Akumulasi pengetahyan tidak dapat mengubah dasar psikologi massa. Semoga bermanfaat.
Wallahu a'lam bi showab
Allahumma sholli 'ala sayyidina Muhammad wa 'ala alihi wa sohbihi ajma'in
Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Selamat pagi, salam sehat, solid, speed, smart
Jambi, 7 Januari 2025
Dr. Chazim Maksalina, M.H