(0741) 40131 jambipta@gmail.com

GEDUNG PTA OK

Generasi setelah Nabi saw yang paling baik dijadikan teladan bagi kita dalam berakidah, bermuamalah dan berakhlaq adalah generasi salafus shaleh, maka merupakan keharusan bagi kita mempelajari sejarah mereka dari generasi ke generasi.

Siapa Salafus Shaleh

Secara bahasa salafus shaleh adalah golongan orang-orang shaleh terdahulu. Sedangkan secara istilah salafus shaleh adalah orang-orang yang tergolong dalam tiga generasi pertama, yaitu Sahabat Nabi, Tabi’in, dan Tabi’it tabi’in. Selebihnya tidak  dapat disebut sebagai generasi salafus shaleh.

Pengertian salafus shaleh seperti tersebut di atas adalah sesuai dengan sabda Rasulullahh saw bahwa: Sesungguhnya  sebaik-baik manusia adalah kurun saya (sahabat), kemudian orang orang yang mengiringinya (tabi’in), lalu orang-orang yang mengiringi berikutnya (tabi’it tabi’iin)

Maka dengan demikian sahabat, tabi’in, dan tabi’it tabi’in adalah orang-orang yang paling tepat diikuti daripada lainnya, karena mereka adalah orang-orang yang paling jujur dalam keimanannya, dan paling ikhlas dalam ibadahnya dan amalannya serta paling mulia dalam akhlaknya. Mereka penjaga aqidah, dan penopang syari'ah yang mengamalkannya dengan ucapan dan perbuatan, terlebih berperilaku mulia dalam akhlaknya.

Mereka yang tergolong salafus shaleh adalah orang-orang salih dari tiga generasi pertama Rasulullahh saw yaitu para sahabat Nabi,  tabi'in, dan tab'iit tabi'in. Oleh karena itu kewajiban bagi setiap muslim mukallaf adalah ittiba’ dan mengikuti langkah-langkah ketiga generasi tersebut, termasuk hasil ijtihad mereka.

Ada tiga alasan mendasar yang disandang oleh salafus sholeh:

Pertama, alim ‘allamah (ilmu yang sempurna) dalam segala bidang.

Kedua, berkepribadian wara'  (senantiasa menjaga terhadap hal yang kurang pantas diucapkan atau dilakukan) dan teruji.

Ketiga, berwawasan ke depan dengan cakrawala yang sangat luas.

Sikap Tawadhu' Salafus Sholeh

Kali ini, penulis akan menukilkan perilaku tawadhu' salafus sholeh dari generasi tabi'in dan tabi'i tabi'in khususnya para empat imam mujtahid besar yang sangat terkenal.

Dengan kapasitas keilmuannya mereka sangat menunjukkan ketawadhu'annya dalam perilaku sehari-hari.

Imam Abu Hanifah rahimahullah, berkata:

"Aku berpegang kepada Kitab Allah. Kemudian apa yang tidak aku dapati (di dalam Kitab Allah, maka aku berpegang) kepada Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Jika aku tidak dapati di dalam Kitab Allah dan Sunnah Rasulullah, aku berpegang kepada perkataan-perkataan para sahabat beliau.Aku akan berpegang kepada perkataan orang yang aku kehendaki. Dan aku tinggalkan perkataan orang yang aku kehendaki di antara mereka. Dan aku tidak akan keluar dari perkataan mereka kepada perkataan selain mereka". "Tidak halal bagi seseorang mengikuti perkataan kami bila ia tidak tahu dari mana kami mengambil sumbernya.”

Imam Malik bin Anas rahimahullah.

Imam Ibnul Qoyyim menyatakan, bahwa Imam Malik rahimahullah berdalil dengan ayat 100, surat At Taubah, tentang kewajiban mengikuti sahabat. "Saya hanyalah seorang manusia, terkadang salah, terkadang benar. Oleh karena itu, telitilah pendapatku. Bila sesuai dengan al-Quran dan as-Sunnah, ambillah, dan bila tidak sesuai dengan al-Quran dan as-Sunnah, tinggalkanlah".

Imam Syafi’i rahimahullah, berkata:

"Selama ada Al Kitab dan As Sunnah, maka alasan terputus atas siapa saja yang telah mendengarnya, kecuali dengan mengikuti keduanya. Jika hal itu tidak ada, kita kembali kepada perkataan-perkataan para sahabat Nabi saw, atau salah satu dari mereka". "Setiap perkataanku bila berlainan dengan riwayat yang shahih dari Nabi saw, hadits nabi lebih utama dan kalian jangan bertaklid kepadaku.”

Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah, ia berkata: "Pokok-pokok sunnah menurut kami adalah berpegang kepada apa yang para sahabat Rasulullah saw berada di atasnya, meneladani mereka, meninggalkan seluruh bid’ah.  "Janganlah engkau taqlid kepadaku atau kepada Malik, Sayfi’i, Auza’i dan Tsauri, tetapi ambillah dari sumber mereka mengambil.

Pelajaran yang dapat dipetik dari ucapan para imam mujtahid tersebut betapa tawadhu' mereka yang menyuruh muslim mukallaf untuk tidak mengambil pendapat dan taqlid kepada mereka tanpa mengetahui sumber dalilnya.

Keharusan mengikuti langkah ulama salaf adalah keniscayaan, meskipun mereka adalah seorang mujtahid, sebagaimana pendapat Imam Malik dan pengikutnya, pendapat lain menyatakan cukup ittiba’  bagi selain mujtahid, atau orang yang belum sampai pada derajat seorang mujtahid, sedang bagi mujtahid harus berijtihad sendiri.

Dengan demikian tampak bahwa al-salaf yang dianut oleh ulama Indonesia mayoritas, adalah mengikuti (ittiba') Nabi, sahabat, tabi'in, tabi'i tabi'in, dan para ulama yang kurunnya berdekatan dengan tabi'i tabi'in dan seterusnya. Kesemuanya membentuk sebuah genealogi keilmuan dan keteladanan yang terbingkai dalam ahlussunnah wal jamaah.

Wallahu a'lam bi showab

Allahumma sholli 'ala sayyidina Muhammad wa 'ala alihi wa sohbihi ajma'in

Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Selamat pagi, salam sehat, solid, speed, smart

Jambi, 26 Januari 2026

Dr. Chazim Maksalina, M.H.