(0741) 40131 jambipta@gmail.com

GEDUNG PTA OK

Bulan Ramadan memang bulan yang sangat istimewa bagi kita umat Islam, karena di bulan tersebut terkumpul segala kemuliaan dan kebaikan. Sehingga rugi bagi kita jika tidak menjalankan dengan sebaik-baiknya.

Kita telah membicarakan nama-nama lain dari bulan Ramadan. Kita masih akan membahas dengan sebutan bulan Ramadan sebagai syahrul jihad atau bulan jihad. Kata jihad itu sendiri memiliki arti luas yaitu usaha yang sungguh-sungguh dan arti sempit yaitu perang.

Menilik pada bulan Ramadan, dalam sejarah Islam, setidaknya ada dua peristiwa legendaris yang terjadi di bulan ini, yakni perang Badar dan Fathu Makkah (pembebasan kota Makkah). Perang Badar terjadi pada tahun 2 Hijriah/624 Masehi, tahun pertama disyariatkannya kewajiban puasa. Ini pertempuran pertama yang dijalani oleh Rasulullah Muhammad saw dan para sahabatnya setelah lama bersabar menghadapi kezaliman kaum kafir Quraisy. “Telah diizinkan berperang bagi orang-orang yang diperangi, karena sesungguhnya mereka telah dianiaya. Dan sesungguhnya Allah benar-benar Mahakuasa menolong mereka. (Q.S al-Hajj: 39).

Saat itu, perbandingan antara jumlah pasukan muslim dengan pasukan kafir Quraisy sangat jauh, 1:3. Namun atas pertolongan Allah dan taktik yang jitu, pasukan muslim meraih kemenangan.   

Sementara Fathu Makkah terjadi beberapa tahun setelahnya  tepatnya pada tahun ke delapan hijriyah,  pasukan muslim dapat merebut kota Makkah setelah sekian lama terusir. Nyaris tidak ada darah yang tumpah dalam peristiwa akbar tersebut.

Ramadan tahun 2 hijriah bertepatan dengan terjadinya perang Badar, salah satu perang besar pada zaman Nabi. Dengan komposisi pasukan yang tidak seimbang (313:1000), wajar jika perang tersebut dianggap sebagai jihad yang berat. Namun sepulang dari perang tersebut Nabi Muhammad justru menyampaikan bahwa masih ada jihad yang lebih besar lagi.

“Kalian semua telah pulang dari sebuah pertempuran kecil menuju pertempuran yang lebih besar. Lalu dikatakan (kepada Nabi), pertempuran besar apakah wahai Rasulullah? beliau menjawab, ‘jihad (memerangi) hawa nafsu.’ (HR. Baihaqi)”

Banyak ahli menilai bahwa hadits di atas sanadnya lemah (dhaif), namun makna yang terkandung dapat diterima. Hadits tersebut memeringatkan kita bahwa sejatinya jihad bukan melulu soal perang. Terlebih ketika berpuasa, jihad terbesar manusia justru melawan hawa nafsunya sendiri. Menjadi penting bagi muslim untuk menahan diri dari melakukan hal yang membahayakan diri sendiri ataupun orang lain, baik secara lisan, tulisan, maupun perbuatan.

Hal itu dikuatkan oleh hadits yang menyatakan bahwa jihad melawan hawa nafsu adalah jihad yang paling utama. “Mukmin yang paling utama keislamannya adalah umat Islam yang selamat dari keburukan lisan dan tangannya. Mukmin paling utama keimanannya adalah yang paling baik perilakunya. Muhajirin paling utama adalah orang yang meninggalkan larangan Allah. Jihad paling utama adalah jihad melawan nafsu sendiri karena Allah. Hadits tersebut diriwayatkan dalam Musnad Ahmad, Sunan al-Tirmidzi, Sunan Abi Dawud, dan Shahih Ibn Hibban.

Ibnu Rajab Al Hambali Rahimahullah menjelaskan, ketahuilah bahwa seorang mukmin melakukan dua jihad di bulan Ramadhan. Jihad pertama adalah jihad pada diri sendiri di siang hari dengan berpuasa. Sedangkan jihad kedua adalah jihad di malam hari dengan shalat malam. Siapa yang melakukan dua jihad dan menunaikan hak-hak berkaitan dengan keduanya, lalu terus bersabar melakukannya, maka ia akan diberi ganjaran di sisi Allah dengan pahala tanpa batas (Lathoiful Ma’arif).

Seharusnya umat muslim tak perlu risau. Karena watak dasar puasa adalah perjuangan. Ali Al-Jurjawi dalam Hikmatu al-Tasyri’ Wa Falsafatuhu (1994: 150) mengatakan, seandainya puasa diwajibkan pada malam hari saat kebanyakan orang terlelap istirahat, maka tak ada nilai perjuangan di dalamnya. Justru puasa dilakukan saat matahari bersinar terik dan manusia sibuk sehingga butuh asupan untuk memproduksi energi tubuh. Inilah ujian etos hidup; ketangguhan menghadapi segala aral. Semoga kita mampu memerangi hawa nafsu yang menguasai dalam diri.

Wallahu a'lam bi showab

Allahumma sholli 'ala sayyidina Muhammad wa 'ala alihi wa sohbihi ajma'in

Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Selamat pagi, salam sehat, solid, speed, smart

Jambi, 4 Maret 2026

Dr. Chazim Maksalina, M.H.