(0741) 40131 jambipta@gmail.com

GEDUNG PTA OK

Dalam tradisi keilmuan Ahlussunnah wal Jama‘ah, bulan Sya‘ban menempati posisi yang sangat istimewa. Ia adalah bulan penghubung antara Rajab bulan penyemaian ruhani dan Ramadhan bulan pematangan ibadah.

Para ulama  memandang bahwa puasa di bulan Sya‘ban, termasuk puasa pada pertengahan Sya‘ban (Nisfu Sya‘ban), memiliki keutamaan besar selama tidak diyakini sebagai kewajiban khusus.

1.Teladan Langsung dari Rasulullah SAW.

Para Ulama' merujuk pada hadits shahih yang diriwayatkan oleh Sayyidah ‘Aisyah.

Dari Aisyah RA ia menuturkan: Rasulullah SAW biasa mengerjakan puasa, sehingga kami berpendapat bahwa beliau tidak pernah tidak berpuasa, dan beliau biasa tidak berpuasa, sehingga kami berpendapat bahwa beliau tidak pernah berpuasa. Akan tetapi aku tidak pernah melihat Rasulullah SAW berpuasa sebulan penuh, kecuali pada bulan Ramadlan, dan aku tidak pernah melihat beliau lebih banyak berpuasa daripada puasa di bulan Sya’ban. (HR Bukhari,  Muslim )

Menurut penjelasan para ulama' syarah hadis, seperti Imam an-Nawawi, hadis ini menunjukkan keutamaan memperbanyak puasa sunnah di bulan Sya‘ban, termasuk di pertengahannya. Maka puasa Nisfu Sya‘ban masuk dalam keumuman sunnah ini.

2.Malam Diangkatnya Catatan Amal

Para ulama juga mengaitkan puasa Nisfu Sya‘ban dengan hadits, yang artinya:

"Itu adalah bulan diangkatnya amal-amal kepada Rabb semesta alam, dan aku ingin amalanku diangkat dalam keadaan berpuasa.”

(HR. an-Nasa’i)

Dalam perspektif Ulama, puasa di bulan Sya‘ban termasuk Nisfu Sya‘ban merupakan ikhtiar ruhani agar catatan amal diangkat dalam keadaan paling mulia, yakni saat seorang hamba menundukkan hawa nafsunya.

3.Puasa Nisfu Sya‘ban sebagai Penguat Amal Malamnya

Nahdhiyyin memandang Nisfu Sya‘ban sebagai satu paket ibadah:

malamnya diisi doa, istighfar, dan taubat

siangnya diisi puasa sunnah.

Puasa pada siang hari Nisfu Sya‘ban berfungsi sebagai penyempurna batin, agar doa-doa malamnya lahir dari jiwa yang lebih bersih, lebih tunduk, dan lebih jujur di hadapan Allah SWT.

4.Pendekatan Fikih Annahdhiyyah: Sunnah, Bukan Bid‘ah

Ulama Nahdhyyin, sebagaimana dijelaskan dalam berbagai forum Bahtsul Masail, menegaskan: Puasa Nisfu Sya‘ban hukumnya sunnah, karena masuk dalam puasa sunnah mutlak di bulan Sya‘ban. Tidak boleh diyakini sebagai puasa wajib atau memiliki tata cara khusus yang pasti

Selama diniatkan sebagai taqarrub ilallah, maka ia bernilai ibadah

Inilah ciri khas fikih annahdhiyah: menjaga tradisi tanpa melampaui batas syariat.

5.Makna Spiritual Menurut Ulama Tasawuf

Dalam pendekatan tasawuf, puasa Nisfu Sya‘ban bukan sekadar menahan lapar, tetapi:

- Latihan menundukkan nafsu sebelum Ramadhan

- Proses pembersihan qalbu

- Pengakuan bahwa hidup sepenuhnya bergantung pada rahmat Allah

Sebagaimana sering disampaikan para masyayikh:

Sya‘ban adalah bulan menyucikan niat, agar Ramadhan tidak sekadar ritual, tetapi benar-benar menjadi jalan pulang.

Akhirnya dalam pandangan Ulama, puasa Nisfu Sya‘ban adalah ibadah sunnah yang bernilai tinggi secara ruhani, selama dijalankan dengan niat yang lurus, tidak berlebihan dalam keyakinan, dan tetap dalam koridor Ahlussunnah wal Jama‘ah. Ia bukan tujuan akhir, tetapi jembatan menuju Ramadhan jembatan taubat, pembersihan diri, dan penguatan iman. Semoga bermanfaat dan mencerahkan

Wallahu a'lam bi showab

Allahumma sholli 'ala sayyidina Muhammad wa 'ala alihi wa sohbihi ajma'in

Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Selamat pagi, salam sehat, solid, speed, smart

Jambi, 3 Februari 2026

Dr. Chazim Maksalina, M.H